پڑھیے› دفتر ۵› پانی کا گدلا ہونے کے بعد حق تعالیٰ سے مدد چاہنا› بیت ۲۱۷
M5:217 — ریختم سرمایه بر پاک و پلید / ای شه سرمایهده هَل مِن مَزید؟
M5:217
معنی و شرح · به زبانِ تو — آپ کی زبان · AI
Air, yang telah melayani semua makhluk tanpa pandang bulu hingga menjadi keruh, memohon kepada Tuhan—sumber segala kesucian—untuk dipulihkan dan diberi kekuatan baru.
Dalam perumpamaan ini, air yang telah menjadi keruh mengadu kepada Tuhan. Ia telah membelanjakan "modal" (sarmāyah) kesuciannya untuk melayani semua makhluk di bumi, baik yang "suci" maupun yang "keji" (pāk va palīd). Kini, setelah memberikan segalanya hingga tak bersisa, ia kembali kepada Sang Pemberi Modal—Tuhan—dan bertanya dengan penuh harap, "Adakah tambahan lagi?" (Hal min mazīd?).
Beberapa bait setelahnya, Rumi menjelaskan bahwa air ini sesungguhnya adalah simbol bagi jiwa para wali atau kekasih Tuhan (jān-i awliyā). Seperti air yang turun dari langit untuk membersihkan bumi, para wali hadir di tengah manusia untuk menyucikan jiwa-jiwa dari kegelapan. Namun, interaksi dengan dunia yang penuh tipu daya (ghadr ahl-i farsh) membuat jiwa mereka "keruh". Pada saat itulah, mereka merindukan kepulangan menuju Sumbernya yang Mahasuci untuk disegarkan kembali, sebelum kembali lagi mengemban tugas spiritual mereka.
Pertanyaan "adakah tambahan lagi?" yang dipinjam dari Al-Qur'an (Surah Qaf: 30) di sini dibalik maknanya. Jika dalam Al-Qur'an neraka yang bertanya karena tak pernah puas, di sini jiwa sang wali bertanya karena kerinduan yang tak terbatas akan anugerah dan kedekatan ilahi.
- سرمایه
- Modal; aset. Dalam konteks ini, merujuk pada kesucian, kemurnian, dan energi spiritual yang dianugerahkan Tuhan.
- پلید
- Najis, kotor, keji. Merujuk pada segala sesuatu yang tidak murni, baik secara fisik maupun spiritual.
- شه
- Bentuk singkat dari 'Syah' (شاه), yang berarti Raja. Di sini ditujukan kepada Tuhan.
- هَل مِن مَزید
- (Bahasa Arab: هل من مزيد) "Adakah tambahan lagi?" Sebuah kutipan dari Al-Qur'an (QS. Qaf, 50:30), di mana neraka bertanya apakah masih ada lagi yang akan dimasukkan ke dalamnya. Rumi menggunakan frasa ini untuk mengungkapkan kerinduan tak terbatas akan anugerah ilahi.
Discussion — Ask about this beyt — answered from the Masnavi, every verse cited
Your conversation stays on this device unless you share it.
What readers asked0
No questions shared yet — yours could be the first.