اقرأ› دفتر ٢› التماس رفيق عيسى عليه السلام إحياء العظام من عيسى عليه السلام› بيت ١٥٣
M2:153 — آنک تخم خار کارد در جهان / هان و هان او را مجو در گلستان
M2:153
المعنى والشرح · به زبانِ تو — بلغتك · AI
Bait ini menyatakan bahwa seseorang yang perbuatannya jahat dan merusak secara alami tidak akan ditemukan di antara orang-orang baik atau dalam lingkungan yang bajik.
Bait ini adalah bagian dari jawaban Tuhan kepada Isa (Yesus) mengenai teman seperjalanannya yang bodoh. Orang ini, yang mengabaikan kematian spiritualnya sendiri demi melihat tulang-belulang mati dihidupkan kembali, digambarkan sebagai seseorang yang "mencari kebinasaannya sendiri" (edbâr-jû).
Tuhan menggunakan perumpamaan pertanian yang sederhana: tindakan seseorang menentukan hasilnya. Orang yang "menabur benih duri" secara sadar memilih jalan yang menyakitkan dan merusak. Sifat dasarnya telah bengkok; ia menciptakan penderitaan bagi dirinya dan orang lain. Oleh karena itu, adalah sebuah kesia-siaan untuk berharap menemukan karakter seperti itu di "taman mawar"—yakni, dalam lingkungan orang-orang suci, di antara perbuatan-perbuatan bajik, atau mengharapkan hasil yang indah darinya.
Secara lebih dalam, Rumi menegaskan bahwa kondisi batin seseorang akan termanifestasi dalam realitas luarnya. Orang yang secara batiniah penuh dengan "duri"—kedengkian, kebodohan, dan penolakan terhadap kebenaran—akan mengubah setiap kesempatan menjadi bencana. Seperti yang dijelaskan pada bait berikutnya, bahkan jika ia memegang sekuntum mawar, mawar itu akan menjadi duri di tangannya.
- هان و هان
- Sebuah frasa Persia kuno untuk peringatan yang sangat kuat, setara dengan "Awas!" atau "Ingat baik-baik!". Pengulangan ini menekankan betapa penting dan mendesaknya peringatan tersebut.
- گلستان
- Secara harfiah berarti "taman mawar". Dalam puisi Sufi, istilah ini sering digunakan sebagai metafora untuk surga, keadaan spiritual yang tercerahkan, atau perkumpulan orang-orang saleh dan arif.
This couplet states a spiritual law of cause and effect: a person whose nature is to create trouble and ugliness will not be found among those who cultivate beauty and goodness.
This verse is God's response to Jesus, who has asked why his foolish companion is so obsessed with resurrecting old bones instead of tending to his own soul. God explains that this man is an idbār-jū, one who actively seeks spiritual ruin. The couplet serves as a powerful agricultural metaphor to illustrate this point.
The man's inner state is like that of a farmer who deliberately plants thorn seeds (takhm-i khār). The world is his field, and his actions are the seeds he sows. The natural, inevitable result of sowing thorns is a harvest of thorns. It is therefore pointless and contrary to nature to look for such a person in a rose garden (gulistān), a place of beauty, fragrance, and spiritual flourishing. He has, by his own choices, excluded himself from that reality.
Rumi uses this image to explain the man's perverse desire. His obsession with dead bones is a symptom of his inner disposition; he is drawn to what is lifeless and barren because that is what he cultivates within himself. The following verses extend the metaphor, explaining that for such a person, even a rose will turn to a thorn in his hand, and a friend will become a snake.
- هان و هان
- An archaic, emphatic interjection meaning 'Beware!' or 'Look out!'. Its repetition intensifies the warning.
- گلستان
- Literally, a 'rose garden' or 'flower garden.' In Persian poetry and Sufism, it symbolizes a place of beauty, spiritual attainment, paradise, or a community of saints.
- مجو
- The negative imperative form of the verb *justan* (to seek). It means 'do not seek' or 'do not look for'.
Discussion — Ask about this beyt — answered from the Masnavi, every verse cited
Your conversation stays on this device unless you share it.
What readers asked0
No questions shared yet — yours could be the first.