Čitaj› Knjiga 3› Nastavak priče o onima koji su se sukobljavali sa slončićima› Bejt 121
M3:121 — مرغ بیهنگام شد آن چشم او / از نتیجهٔ کبر او و خشم او
M3:121
Značenje · به زبانِ تو — Tvoj jezik · AI
Penglihatan spiritualnya yang terbuka di ambang kematian datang terlambat, seperti kokok ayam di tengah malam, sebagai akibat dari kehidupan yang dihabiskan dalam kesombongan dan kemarahan.
Dalam konteks ini, Rumi menggambarkan saat-saat terakhir kehidupan seseorang. Ketika ajal menjelang, "matanya" (penglihatan batinnya) menjadi tajam dan ia dapat melihat realitas spiritual yang sebelumnya tersembunyi, seperti Malaikat Maut. Namun, pencerahan ini tidak ada gunanya karena datang terlambat.
Rumi menggunakan metafora "ayam jantan yang berkokok di luar waktu" (murgh-e bī-hangām). Dalam tradisi Persia, ayam jantan yang berkokok pada waktu yang tidak semestinya—misalnya, di tengah malam, bukan saat fajar—dianggap sebagai pertanda buruk dan harus disembelih. Demikian pula, penglihatan spiritual yang terbuka hanya di saat kematian adalah penglihatan yang "tidak tepat waktu". Ia tidak membawa manfaat untuk pertobatan atau perbaikan diri; ia hanya menyingkapkan konsekuensi dari kehidupan yang telah dijalani—dalam hal ini, kehidupan yang penuh "kesombongan dan amarah". Kesadaran ini datang bukan sebagai anugerah, melainkan sebagai akibat yang tak terhindarkan dari perbuatan di masa lalu.
- مرغ بیهنگام
- Secara harfiah, 'burung/ayam yang tak kenal waktu'. Istilah ini merujuk pada ayam jantan yang berkokok pada waktu yang tidak semestinya, yang dianggap sebagai pertanda buruk dan karenanya harus disembelih. Di sini, ini adalah metafora untuk sesuatu yang terjadi terlambat sehingga tidak lagi bermanfaat.
- کبر
- Kata dari bahasa Arab yang berarti kesombongan, keangkuhan, atau arogansi. Dalam etika Sufi, ini adalah salah satu sifat tercela yang paling menghalangi seseorang dari kebenaran spiritual.
چشم او که در لحظهٔ مرگ به دیدن عالم غیب باز شد، مانند خروسی است که بیموقع بانگ میزند و دیگر سودی ندارد؛ این دیدنِ دیرهنگام، حاصل یک عمر تکبر و خشم اوست.
در این بیت، مولانا حال کسی را توصیف میکند که در آستانهٔ مرگ، چشمش به حقایق عالم غیب باز میشود. این «دیدن» اما دیگر ارزشی ندارد، چون زمانی اتفاق میافتد که فرصت عمل و توبه از دست رفته است.
مولانا این چشم را به «مرغ بیهنگام» تشبیه میکند. در فرهنگ ایرانی، خروسی که بیموقع (مثلاً نیمهشب) بانگ برآورد، شوم دانسته شده و سرش را میبریدند. کار خروس، بانگ زدن در سحرگاه و بیدار کردن مردم برای نماز و کار است. بانگ بیموقع او نه تنها مفید نیست، بلکه زیانبار است. چشم این شخص محتضر نیز اکنون حقیقت را میبیند، اما این آگاهی در لحظهای فرا رسیده که دیگر فایدهای برای اصلاح زندگی و جبران گذشته ندارد. این دیدنِ دیرهنگام، نتیجهٔ مستقیم زندگیای است که بر پایهٔ «کبر» (خودبزرگبینی و نپذیرفتن حقیقت) و «خشم» (طغیان علیه واقعیت) بنا شده بود. این دو صفت حجابی بودند که مانع دیدن او در طول عمرش شدند و حالا که حجاب کنار میرود، کار از کار گذشته است.
- مرغ بیهنگام
- خروسی که بیموقع و در غیر وقت سحر بانگ میزند؛ کنایه از کار بیفایده و نابهجا
- کبر
- خود را بزرگ دیدن، تکبر ورزیدن، نپذیرفتن حق
Discussion — Ask about this beyt — answered from the Masnavi, every verse cited
Your conversation stays on this device unless you share it.
What readers asked0
No questions shared yet — yours could be the first.