Lesen› Buch 3› Zurück zur Elefantengeschichte› Vers 160
M3:160 — بوی رسوا کرد مکر اندیش را / پیل داند بوی طفل خویش را
M3:160
Bedeutung · به زبانِ تو — Deine Sprache · AI
Aroma daging anak gajah di napas si pembunuh menjadi bukti kejahatannya, karena induk gajah mengenali bau khas anaknya dan tak bisa ditipu.
Dalam kisah ini, Rumi menggambarkan bagaimana kejahatan, betapapun tersembunyi, akan selalu meninggalkan jejak yang tak terhapuskan. Seorang lelaki licik memakan anak gajah dan berpura-pura tidur di antara rombongan kafilah, mengira kejahatannya aman. Namun, induk gajah yang berduka datang dan mengendus napas setiap orang hingga menemukan si pelaku dari baunya.
Bau di sini menjadi metafora kuat bagi hakikat batiniah seseorang. Seperti halnya bau bawang yang tak bisa disembunyikan dari napas, setiap perbuatan—terutama yang lahir dari niat buruk seperti keserakahan, kesombongan, atau tipu daya—memancarkan "aroma" spiritualnya sendiri. Mungkin manusia bisa saling menipu dengan penampilan luar, tetapi di hadapan kebenaran yang tajam dan naluriah (dilambangkan oleh sang induk gajah), atau di hadapan Tuhan dan para wali-Nya, tabir itu tersingkap.
Bait ini menjadi jembatan dari kisah harfiah menuju pelajaran rohani yang lebih dalam. Rumi segera mengembangkannya dengan menyatakan bahwa jika aroma kebenaran dapat tercium dari jauh (seperti Nabi Muhammad yang mencium wangi dari Yaman), maka bau kebatilan dan dosa dari diri kita pun pasti tercium oleh "para pencium" di alam spiritual. Setiap tindakan dan niat kita naik ke langit laksana aroma, menjadi saksi abadi atas diri kita.
- رسوا کرد
- Telah mempermalukan, menelanjangi aib, membongkar rahasia.
- مکر اندیش
- Orang yang berpikir licik, perencana tipu daya, penipu.
Discussion — Ask about this beyt — answered from the Masnavi, every verse cited
Your conversation stays on this device unless you share it.
What readers asked0
No questions shared yet — yours could be the first.