Lesen› Buch 5› Das Wasser bittet Gott (erhaben sei Seine Majestät) um Hilfe, nachdem es trüb geworden ist.› Vers 225
M5:225 — ای بلال خوشنوای خوشصَهیل / مِئذَنه بر رو بزن طبل رحیل
M5:225
Bedeutung · به زبانِ تو — Deine Sprache · AI
Bait ini adalah seruan jiwa sang wali kepada dirinya sendiri untuk meninggalkan hiruk pikuk dunia dan kembali kepada Tuhan, laksana Bilal yang menyerukan azan untuk memulai salat.
Dalam konteks ini, Rumi menyamakan jiwa para wali (kekasih Tuhan) dengan air murni yang menjadi keruh karena bercampur dengan urusan duniawi (اختلاط خلق). Ketika jiwa merasa 'sakit' atau terkontaminasi oleh dunia, ia merindukan perjalanan kembali menuju sumber kesuciannya, yaitu Tuhan.
Seruan "Wahai Bilal" merujuk pada hadis terkenal ketika Nabi Muhammad ﷺ berkata, "Ariḥnā yā Bilāl" ("Berilah kami istirahat, wahai Bilal"), meminta Bilal mengumandangkan azan sebagai penanda dimulainya salat, yang merupakan momen istirahat spiritual dan perjumpaan dengan Tuhan. Di sini, Rumi menggunakan citra ini secara metaforis. 'Bilal' adalah sisi spiritual sang wali yang memanggil dirinya untuk 'salat'—yakni, untuk melakukan perjalanan rohani (رحيل, raḥīl) meninggalkan dunia dan kembali ke hadirat Ilahi. 'Naik ke menara azan' adalah simbol yükseliş (kenaikan spiritual) menjauh dari kerendahan dunia, dan 'menabuh genderang keberangkatan' adalah isyarat tegas untuk memulai perjalanan pulang ini.
- رحیل
- Keberangkatan, perjalanan, eksodus. Dalam konteks sufi, ini merujuk pada perjalanan jiwa meninggalkan dunia materi untuk kembali kepada Tuhan.
- مِئذَنه
- Menara azan. Secara harfiah, 'tempat azan dikumandangkan'. Di sini melambangkan tempat yang tinggi dan suci, titik tolak untuk yükseliş (kenaikan) spiritual.
- صَهیل
- Ringkikan kuda. Sebuah citra yang tidak biasa dan kuat untuk menggambarkan suara azan Bilal, menyiratkan kekuatan, semangat, dan panggilan yang membangkitkan jiwa untuk 'berperang' (melawan nafsu) atau memulai perjalanan.
- بلال
- Bilal bin Rabah, sahabat Nabi Muhammad ﷺ dan muazin pertama dalam Islam. Suaranya yang merdu menjadi simbol panggilan menuju hadirat Tuhan.
Discussion — Ask about this beyt — answered from the Masnavi, every verse cited
Your conversation stays on this device unless you share it.
What readers asked0
No questions shared yet — yours could be the first.