Leggi› Libro 1› La storia di Adamo (pace su di lui) e di come il destino gli chiuse la vista dall'osservare il divieto esplicito e l'abbandono dell'interpretazione› Distico 1263
M1:1263 — ای خنک آن کو نکوکاری گرفت / زور را بگذاشت او، زاری گرفت
M1:1263
Significato · به زبانِ تو — La tua lingua · AI
Dalam menghadapi takdir Tuhan, orang yang paling beruntung adalah yang berhenti mengandalkan kekuatan atau akalnya sendiri dan beralih pada doa dan kerendahan hati.
Bait ini adalah seruan pujian Rumi yang muncul di tengah perenungan tentang kisah Nabi Adam. Adam, meskipun memiliki pengetahuan luas, dibutakan oleh Qadhāʾ (Ketetapan Ilahi) sehingga ia melanggar larangan Tuhan. Namun, setelah tersadar akan kesalahannya, ia tidak membela diri atau menyalahkan takdir. Sebaliknya, ia langsung mengaku, "Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri."
Sikap inilah yang dipuji oleh Rumi. "Kekuatan" (zor) melambangkan segala daya upaya manusia: kecerdasan, argumen, kekuatan kehendak, atau bahkan perlawanan terhadap takdir. Adam telah mencoba menggunakan akalnya untuk menafsirkan larangan Tuhan, dan ia gagal. Jalan yang benar, kata Rumi, adalah meninggalkan "kekuatan" itu dan memilih "rintihan" (zārī). Zārī bukan sekadar kesedihan, melainkan sikap pasrah yang tulus, pengakuan akan kelemahan diri di hadapan Tuhan, yang diwujudkan dalam doa dan tangisan penyesalan. Inilah "kebajikan" (nekūkārī) yang sesungguhnya dalam konteks ini: menerima takdir dengan rendah hati, bukan melawannya dengan kesombongan.
- خنک
- Sebuah seruan dalam bahasa Persia klasik yang berarti "sungguh bahagia", "alangkah beruntungnya", atau "betapa menyenangkannya".
- نکوکاری
- Secara harfiah berarti "perbuatan baik" atau "kebajikan". Dalam konteks ini, kebajikan yang dimaksud adalah memilih jalan yang benar saat berhadapan dengan takdir, yaitu kepasrahan.
- زور
- Kekuatan, tenaga, paksaan. Di sini, istilah ini melambangkan semua upaya yang mengandalkan diri sendiri, seperti kekuatan ego, akal, atau perlawanan terhadap kehendak Tuhan.
- زاری
- Rintihan, ratapan, keluhan. Dalam terminologi sufi, ini bukan sekadar ekspresi kesedihan, melainkan sikap spiritual yang mendalam: pengakuan akan ketidakberdayaan diri dan penyerahan total kepada Tuhan, yang sering diungkapkan melalui doa yang khusyuk dan tangisan.
Discussion — Ask about this beyt — answered from the Masnavi, every verse cited
Your conversation stays on this device unless you share it.
What readers asked0
No questions shared yet — yours could be the first.