Читати› Daftar 2› Супутник Іси, мир йому, просить Ісу, мир йому, оживити кістки› Бейт 150
M2:150 — چون غم خود نیست این بیمار را / چون غم جان نیست این مردار را
M2:150
Значення · به زبانِ تو — Вашою мовою · AI
Mengapa orang yang sakit secara rohani ini tidak peduli untuk menyembuhkan dirinya sendiri, dan mengapa ia yang seperti mayat hidup tidak peduli pada keselamatan jiwanya?
Dalam kisah ini, seorang pengikut Isa (Yesus) yang bodoh mendesak untuk diajarkan Nama Agung Tuhan agar ia dapat menghidupkan kembali tulang-belulang. Isa, dalam kebingungannya, bertanya kepada Tuhan mengapa orang ini begitu terobsesi dengan urusan luar yang sia-sia.
Bait ini adalah keluhan Isa kepada Tuhan. Ia menyebut pengikutnya sebagai "si sakit" (bīmār) dan "bangkai" (murdār), bukan karena penyakit fisik, tetapi karena kebutaan rohaninya. Orang ini sibuk ingin menghidupkan kembali tulang-belulang orang lain, padahal jiwanya sendiri mati dan membutuhkan penyembuhan. Ia tidak memiliki "duka" atau kepedulian (gham) untuk kondisi rohaninya yang parah.
Bagi Rumi, ini adalah gambaran dari setiap manusia yang mengabaikan penyucian batinnya sendiri demi mengejar kekuatan, pengetahuan, atau pengaruh duniawi. Obsesi untuk "memperbaiki" dunia luar sambil membiarkan jiwa sendiri terbengkalai adalah kebodohan tertinggi. Bait ini menyoroti ironi tragis dari seseorang yang mencari kekuatan untuk memberi kehidupan, padahal ia sendiri adalah mayat berjalan secara spiritual.
- مردار
- Bangkai, bangkai binatang; digunakan di sini sebagai metafora yang sangat kuat untuk seseorang yang jiwanya mati atau tidak sadar secara rohani.
- غم جان
- Duka untuk jiwa; kepedulian atau kesedihan mendalam atas kondisi rohani seseorang.
- بیمار
- Orang sakit; dalam konteks ini, merujuk pada penyakit rohani seperti kebodohan, kesombongan, atau kebutaan batin, bukan penyakit fisik.
This man is spiritually sick, even dead, yet he shows no concern for his own inner healing and is instead obsessed with reviving the bodies of others.
In the story, Jesus's companion begs to learn the divine name that resurrects the dead. Jesus, in a prayer to God, expresses his bewilderment at the man's misplaced priorities. This couplet is the core of his complaint.
Rumi uses a powerful metaphorical escalation. First, he calls the companion a "sick man" (bīmār), implying a spiritual illness. The man's sickness is precisely his lack of self-awareness; he doesn't grieve his own condition. In the second line, the diagnosis worsens: the man is not just sick, he is a "corpse" (murdār). This spiritual death is defined by a total lack of concern for his own soul (jān).
The point is a central one in Sufi ethics: the primary spiritual task is to attend to one's own inner state. The companion is focused on a spectacular, external miracle—reviving a pile of bones—while ignoring the far more urgent need to revive his own deadened soul. He has, as the next verse clarifies, "abandoned his own corpse" to try and mend a stranger's.
- مردار
- A corpse, a carcass. A term used here metaphorically to denote a state of spiritual death, far more severe than mere spiritual sickness (bīmār).
- غم جان
- Grief for the soul; concern for one's spiritual well-being. Its absence is presented as the defining symptom of being spiritually dead.
- بیمار
- A sick person, a patient. In this context, it refers to someone who is spiritually ill or diseased.
Обговорення — Запитайте про цей бейт — відповіді з «Маснаві», кожен вірш цитується
Ваша розмова залишається на цьому пристрої, доки ви нею не поділитеся.
Про що питали читачі0
Ще ніхто не ділився запитаннями — ваше може бути першим.