Citește› Daftar 3› Continuarea poveștii celor care au atacat puii de elefant› Distih 129
M3:129 — عاقبت تو رفت خواهی ناتمام / کارهاات ابتر و نان تو خام
M3:129
Înțeles · به زبانِ تو — Limba ta · AI
Bait ini adalah peringatan bahwa jika engkau menyia-nyiakan hidup untuk urusan duniawi yang tak penting, engkau akan mati sebelum mencapai kematangan spiritual, dengan segala pencapaianmu menjadi sia-sia.
Rumi menyampaikan sebuah peringatan keras tentang akhir kehidupan. Ia membandingkan hidup dengan sebuah proses, seperti memanggang roti atau menyelesaikan sebuah pekerjaan. Jika seseorang menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang tidak esensial—seperti yang disiratkan dalam bait sebelumnya, "Jangan berjuang keras dalam segala urusan, kecuali urusan yang menyangkut agamamu" (M3:128)—maka ia akan dijemput ajal dalam keadaan "tak tuntas" (nātamām).
Kematian akan datang secara tak terduga, memutus semua proyek dan ambisi duniawi. Gambaran "rotimu tetap mentah" (nān-e to khām) adalah metafora yang kuat untuk jiwa yang belum matang atau "masak" secara spiritual. Roti yang mentah tidak dapat dimakan dan tidak bergizi; demikian pula, jiwa yang belum siap tidak akan memperoleh manfaat dari perjalanan hidupnya dan akan tiba di akhirat dalam keadaan tidak siap. Bait ini menekankan urgensi untuk fokus pada pengembangan batiniah, karena hanya itulah "pekerjaan" yang tidak akan terputus (abtar) oleh kematian.
- ناتمام
- Tidak selesai, tidak tuntas, tidak sempurna. Merujuk pada kondisi spiritual seseorang yang meninggal sebelum mencapai kematangan atau penyempurnaan diri.
- ابتر
- Terputus, terpenggal, tanpa kelanjutan. Kata ini memiliki resonansi dari Al-Qur'an (Surah Al-Kawthar) dan di sini berarti bahwa semua usaha dan pencapaian duniawi akan terhenti sia-sia saat kematian tiba.
- خام
- Mentah, belum matang. Digunakan secara metaforis untuk menggambarkan jiwa yang belum berkembang, pengetahuan yang dangkal, atau pengalaman spiritual yang belum sempurna.
این بیت هشداری است به کسی که تمام عمر خود را صرف کارهای دنیوی میکند؛ در نهایت، مرگ او را در حالی فرامیگیرد که هم کارهایش نیمهتمام مانده و هم خودش از نظر معنوی به کمال نرسیده است.
مولانا در این بیت، فرجام کسی را به تصویر میکشد که به جای پرداختن به امور معنوی و خودسازی، خود را غرق در کارهای بیپایان دنیوی کرده است. او عمر را به کیسهای از سکههای طلا تشبیه میکند که هر روز از آن خرج میشود و اگر جای آن با اعمال معنوی پر نشود، سرانجام تهی خواهد شد.
این بیت نتیجهٔ مستقیم آن غفلت است: مرگ به سراغ انسان میآید و او را «ناتمام» با خود میبرد. این ناتمامی دو جنبه دارد: اول اینکه کارهای دنیوی که شخص برای به سرانجام رساندنشان تلاش میکرد، نیمهکاره رها میشوند (کارهاات ابتر). دوم، و مهمتر، خودِ شخص از نظر روحی و معنوی «خام» و نپخته باقی مانده است. «نانِ خام» استعارهای قدرتمند برای انسانی است که در آتش معرفت و عشق الهی پخته نشده و به کمال انسانی خود دست نیافته است. در واقع، او فرصت زندگی را برای پختن نان وجودش از دست داده و با دستانی خالی و وجودی ناکامل از دنیا میرود.
- ناتمام
- ناقص، کاملنشده، به کمال نرسیده
- ابتر
- بریده، بیدنباله، بینتیجه، ناقص
- خام
- نپخته، ناآزموده، بیتجربه، کاملنشده
Discuție — Întreabă despre acest distih — răspuns din Masnavi, cu fiecare vers citat
Conversația ta rămâne pe acest dispozitiv, dacă nu o distribui.
Ce au întrebat cititorii0
Nicio întrebare distribuită încă — a ta ar putea fi prima.