Läs› Daftar 2› Jesu (frid vare med honom) följeslagare ber Jesus (frid vare med honom) att återuppliva ben› Vers 151
M2:151 — مردهٔ خود را رها کردست او / مردهٔ بیگانه را جوید رفو
M2:151
Betydelse · به زبانِ تو — Ditt språk · AI
Orang ini mengabaikan keadaan rohaninya yang mati, namun sibuk berusaha menghidupkan kembali tulang-belulang orang lain yang tak ia kenal.
Dalam kisah ini, seorang pengikut Isa yang dangkal terus-menerus meminta diajarkan Nama Agung Tuhan yang dapat membangkitkan orang mati. Isa memperingatkannya bahwa ia belum siap secara spiritual, tetapi orang itu tetap memaksa. Rumi menggunakan bait ini untuk menyoroti kebodohan rohaninya.
"Jasadnya sendiri" (morde-ye khod) adalah metafora untuk hatinya yang mati—jiwanya yang tidak hidup, tidak sadar, dan terputus dari Tuhan. Ia telah "menelantarkan" (rahā kardast) tugas terpentingnya: menghidupkan dirinya sendiri melalui pemurnian spiritual. Sebaliknya, ia terobsesi dengan "jasad orang asing" (morde-ye bīgāne), yaitu tulang-belulang yang mereka temukan di pinggir jalan. Ia ingin melakukan mukjizat lahiriah yang spektakuler, padahal mukjizat batiniah yang paling mendesak justru ia abaikan.
Bait ini adalah kritik tajam terhadap orang-orang yang mencari kekuatan spiritual untuk tujuan duniawi atau pamer, alih-alih untuk penyembuhan diri. Mereka lebih peduli pada penampilan luar daripada substansi batin, sebuah kekeliruan mendasar dalam pandangan Sufi.
- رفو
- Secara harfiah berarti 'menisik' atau 'menambal' (kain robek). Dalam konteks ini, digunakan secara metaforis yang berarti 'memperbaiki', 'memulihkan', atau 'menghidupkan kembali'.
- مردهٔ خود
- Secara harfiah 'orang matinya sendiri'. Dalam tasawuf, ini adalah metafora untuk jiwa atau hati seseorang yang mati secara spiritual, yang tidak memiliki kesadaran akan Tuhan.
- بیگانه
- Orang asing, orang lain. Di sini merujuk pada tulang-belulang yang tidak ada hubungannya dengan orang tersebut, menekankan betapa salah arah perhatiannya.
This man neglects his own dead soul, yet he is obsessed with reviving the dead bodies of others.
This couplet is the core of Jesus's complaint to God about his foolish companion. The man has been pestering Jesus to teach him the divine name that can resurrect the dead. Jesus sees this as a profound spiritual misdirection.
The 'dead self' (murda-ye khod) is the man's own spirit, which is lifeless, un-revived, and in desperate need of attention. He has abandoned this crucial inner work. Instead, he fixates on the 'stranger's corpse' (murda-ye bīgāna), which represents a fascination with external miracles and powers that have nothing to do with his own salvation.
Rumi uses this story to critique a common spiritual error: prioritizing outward shows of power or knowledge over the essential, inward task of vivifying one's own soul. The companion wants the power of a prophet without having done the work to purify the self. He is like someone who ignores his own mortal illness to dabble in healing others, a futile and misguided effort.
- رفو
- Darning, mending, patching up. Here it implies a futile attempt to repair something that is fundamentally decayed, like a corpse.
- بیگانه
- Stranger, foreigner, other. In this context, it contrasts with 'khod' (self) to mean that which is external to one's own soul.
- مرده
- Dead, a corpse. Rumi uses it literally for the bones the companion wants to revive, and metaphorically for the man's own spiritually dead soul.
Diskussion — Fråga om denna beyt — besvarad från Masnavi, med varje vers citerad
Ditt samtal stannar på denna enhet om du inte väljer att dela det.
Vad läsare har frågat0
Inga frågor har delats ännu — din kan bli den första.